Stupid
of me. I got excited over nothing. It's just like that person said; LOVE IS
ZERO . NO MATTER HOW MANY ZEROES YOU ADD TOGETHER, YOU WILL JUST LOSE
MISERABLY!
What are you talking about?
Don't
you get it Shinichi? You're detective aren't you? If you call your self a
detective, why don't you try to deduce my heart!?
Hey wait! RAN! I said wait!
No! Let
me go!
You are troublesome! You are
troublesome and tough case, you know! With all these distracting emotions, even
if I were Holmes, it'd still be impossible to figure out! The heart of the girl
whom one likes.. how can one accurately deduce that! As for love is zero? Dont
make me laugh! Tell that girl, ZERO IS WHERE EVERYTHING STARTS! NOTHING WOULD
EVER BE BORN IF WE DIDN'T DEPART FROM THERE. AND NOTHING WOULD EVER BE ACHIVED!
TELL HER THAT!
....
-Detective
Conan Eps.621-
***
Saya iseng menonton kartun Detective Conan di laptop waktu itu.Dan percakapan di atas terjadi di
salah satu episode yang saya tonton. Selain karena episode tersebut berlokasi di
Inggris, di episode tersebut pun Conan sempat kembali menjadi Sinichi dalam
bentuk ukuran tubuh yang sebenarnya. Dan ya, Ran dan Shinichi kembali bertemu!
Entah kenapa saya suka sekali dengan karakter hubungan antara Shinichi dan Ran
yang dibangun oleh penulisnya. Romantic.
But never over romantic.
***
Love is
Zero..
Sebuah kalimat pendek ini begitu menggelitik
saya. Karena nyatanya seperti itulah cinta, seperti itulah hidup. Kamu selalu
bisa melihat hal dari dua sisi yang berbeda. Seperti dua sisi gambar mata uang
di sebuah koin. Sebuah kalimat Love is
Zero, bisa diartikan berbeda tergantung siapa yang mendengar, tergantung
seperti apa situasi yang tengah dihadapi, tergantung emosi seperti apa yang
tengah melingkupi hati kita sendiri.
Ran, mendengar kalimat itu dari seorang
Minerva Glass saat sedang gamang
memikirkan Sinichi. Minerva adalah seorang Petenis perempuan yang tidak sengaja
ia temui di taman, seorang Ratunya lapangan rumput dalam Turnamen Tennis dunia.
Dan Minerva ini tengah terjebak dalam sebuah hubungan yang begitu rumit dengan
seorang pria yang dia kasihi.
Dia bilang pada Ran; Love is Zero, no matter how many zeroes you
add together, you will just lose miserably.
Apa pandangan seperti itu salah? Tentu
saja tidak. Kalimatnya begitu masuk diakal. Coba saja kamu menulis sebuah angka
enol di selembar kertas. Lalu kamu tambahkan puluhan bahkan ratusan angka enol
di belakangnya. Apa yang akan kamu dapatkan? Tidak ada. Bilangannya tetap enol
dan akan tetap berjumlah enol walau pun satu miliyar enol kamu tambahkan di
belakangannya. Masuk akal bukan? Dan kesimpulan semacam ini akan lebih mudah
dipilih oleh mereka yang tengah terjebak di dalam kasus perasaan yang rumit. Bukankah menyerah itu tidak perlu alasan? Dan
bukankah manusia kerap mengarang banyak alasan untuk berhenti bertahan dalam
situasi yang rumit?
Dan memang seperti itu lah cinta dan
hidup yang tengah tampak di matanya, di mata seorang Minerva Glass dalam cerita
tersebut.
***
Pernahkah kamu mencintai seseorang yang
membuatmu juga berpikir demikian? Saat seperti apa pun usaha yang tengah kamu
coba upayakan untuk mempertahankan cinta itu, pada akhirnya kamu selalu menjadi
yang terlihat paling bodoh sendirian.
Saya pernah mengalaminya, sampai saya
akhirnya sempat menulis kalimat ini; Ada
kalanya seberapa pun keras kamu mencoba menjelaskan sesuatu pada seseorang dan
dia justru semakin tidak mengerti apa sebenarnya inginmu. Dan itulah saatnya
kamu diam.
Lalu semenjak itu saya pun memilih diam
padanya. Bahkan diam padanya hingga detik ini. Saya seperti merasa cukup menjelaskan. Diam bukan berarti
berhenti bicara padanya selamanya-oh come
on, saya terlalu tua untuk mengambil keputusan yang sedemikian kanak-kanak.
Diam pun bisa berarti berhenti peduli untuk mengingatkannya bila dia berbuat
salah padamu. Semacam merasa sudah cukup berupaya keras agar dimingerti, maka
bila dia tak juga bisa mengerti, mungkin memang selama ini dia tak ikut
berusaha bersamamu. Kamulah yang pada akhirnya, lelah berusaha sendirian.
Adakalanya rasa cukup itu datang begitu saja tanpa penjelasan, tanpa aba-aba.
Padahal sedetik sebelumnya rasa rindu masih menggebu-gebu di dalam hati.
Mengusik setiap aktivitas. Menjadi pengganggu yang paling disukai. Bisa hanya
karena sebaris kalimat menyakitkan yang kita dengar darinya, bahkan bisa hanya
karena dia tidak melakukan apa pun-apa
pun yang sebenarnya selama ini begitu kita harapkan dilakukannya.
Datang dan perginya cinta itu adalah
misteri yang saya rasa tidak ada seorang pun sanggup membuat rumusnya. Tidak
pun Einsten.
Saat itu saya tiba-tiba merasa seperti
apa yang Minerva Glass rasakan. Love is
Zero, no matter how many zeroes you
add together, you will just lose miserably. And i felt so miserably at that time.
Dan mungkin itulah titik yang biasa
orang bilang putus asa. Saya lalu
sekarang menjadi mengerti kenapa mereka yang tengah patah hati kerap dibilang sedang mengalami putus cinta.
Mungkin saat itulah perasaannya diputus
oleh logikanya sendiri. Bukan rasa sayangnya yang telah habis, tapi rasa sayang
yang diputus begitu saja. Cintanya bukan lagi air yang mengalir di sungai.
Cintanya tiba-tiba seperti jembatan yang ambruk karena gempa. Putus di tengah
jalan dan tak lagi sanggup mengantar apa pun ke seberang. Berhenti
mengkhayalkan soal masa depan dengannya. Merasa tidak ada lagi yang layak
diperjuangkan untuknya.
Ran : How did you know? That I was having
love troubles..
Minerva:
Because that face you had.. I had seen my self with the same face in the mirror
before.
Ran : Then you've also had love troubles?
Minerva:
Still, I'm no longer troubled. Holmes said it too; ‘love is an emotional thing, I will say nothing in praise of it. It's
antagonistic to clear reasoning'. It's the same in tennis. Love is zero, no
matter how many zeroes you add together, you will just lose miserably."
Ran : ....
***
Dan tidak semua perempuan seberuntung
Ran yang memiliki seorang pria yang menyayanginya seperti Sinichi. Minerva
Glass bahkan tak memilikinya. Hingga dia pun bisa sampai ke dalam kesimpulan Love is Zero semacam itu.
Tidak banyak pria yang akan mengejar kekasihnya yang tengah
berlari karena marah seperti Sinichi. Tidak banyak pria yang mau melakukannya. Pria zaman sekarang,
kebanyakan adalah pria yang merasa pantas dikejar bukan mengejar. Mereka yang
merasa di setiap langkah kaki yang dia tapaki untuk mengejar perempuan yang dia
sayangi, maka di setiapnya pula harga dirinya jatuh ke tanah.
Dan tidak semua perempuan seberuntung
Ran yang masih diberi kesempatan mendengar kalimat; Tunggu, tunggu dan jangan pergi Ran!
Karena kebanyakan pria masa kini akan
lebih memilih membiarkan perempuannya berlari sendiri. Karena merasa apa yang
ada di dalam pikiran perempuan tersebut begitu bodoh.
Love is
zero? Don't make me laugh! And that's it. Saya bukan pria yang akan membuang waktu untuk mengejar
perempuan yang tengah berputus asa dan punya isi kepala yang membuat saya ingin
tertawa.
Karena kenyataannya, cintanya tidak
sebesar itu untuk merasa cukup pantas
dipertahankan.
Tidak semua pria mau menyisihkan egonya
untuk mengejar dan berteriak lantang;
Tell
that girl, ZERO IS WHERE EVERYTHING STARTS! NOTHING WOULD EVER BE BORN IF WE
DIDN'T DEPART FROM THERE. AND NOTHING WOULD EVER BE ACHIVED! TELL HER THAT!
Love is
Zero, karena tanpa angka enol, tidak akan ada angka lain yang
lahir. Karena setiap hitungan bermula dari sana, sehingga tanpanya tak akan ada
yang penah kita dapat hitung dan capai.
Begitu pun cinta dan hidup ini. Tidak
ada yang serta merta langsung bahagia, tidak ada yang serta merta bisa bersama
tanpa melewati perselisihan. Semua butuh awal dan semua perlu menjalani proses.
Tanpa keduanya, maka tidak ada cinta yang mampu bertahan untuk tetap hidup.
Seberapa banyak pria yang merasa perlu
membuat perempuannya merasa begitu dicintai. Pria yang mau memberi penjelasan
atas cintanya, yang mau meluruskan pikiran yang salah karena tengah merasa
begitu marah. Seharusnya jumlahnya lebih banyak dari yang tidak merasa perlu
melakukannya.
Itu kenapa pria akhirnya terpilih
menjadi kepala keluarga. Karena dari dalam dirinyalah kelak banyak masalah
akhirnya bisa diselesaikan. Karena itu mereka pantas jadi pemimpin.
***
Kenapa wanita banyak menuntut? Mungkin
karena dia percaya bahwa sang pria sanggup memenuhi pintanya. Mungkin karena
nilai sang pria begitu besar di matanya. Kalau saya sih karena itu. Itu kenapa,
saat harapan saya tak terpenuhi, saya pasti kecewa pada diri saya sendiri yang
telah terlalu besar menilai pria tersebut. Pft.
Will
you marry me Shinichi? Hahahahaa.. so I don't have to be like Minerva Glass. A girl who ever think that
Love is Zero. No matter how many zeroes I add together, I will just lose
miserably.
Ladies,
you have to find a Man like Shinichi. Who will never let you putus
asa or patah hati dengan cara yang tidak elegan.
Pasti ada pria seperti Shinichi yang akan
kita temui. Pria yang telah dipilih Tuhan untukmu merasakan bagaimana cinta
yang baik itu. Dan bagaimana dicintai dengan baik itu.
Cheers.
Notes:
Saya tidak penah sekali pun menyesal
pernah mencintai seseorang. Cinta saya tidak pernah murah saya beri, saya
selalu punya alasan kuat kenapa saya
bisa jatuh hati pada orang tersebut. Terkadang pun, kami akhirnya berpisah
bukan karena dia melakukan kesalahan, atau saya melakukan kesalahan. Kami
hanya, kalian tahu, tiba-tiba merasa kalau kami lebih baik bila tidak lagi
bersama. Ya, begitulah cinta di usia saya :p

Tidak ada komentar:
Posting Komentar